Pernah nggak sih kamu ngerasa udah effort ke sana-sini, kirim CV, datang ke wawancara, tapi tetap aja lowongan kerjanya kayak “menghilang” pas kamu datang? Tenang, kamu nggak sendirian. Banyak Gen Z hari ini sebenarnya punya potensi gede, tapi masih kebingungan buat masuk ke dunia kerja yang makin hari makin “ngegas” tuntutannya. Di satu sisi, kita pengen kerja yang sesuai passion.

Di sisi lain, realita bilang: kalau terlalu idealis, ya bakal kehilangan setiap kesempatan yang ada. Makanya di artikel kita kali ini, kita bakal nge-bahas, apa aja sih yang jadi penyebab, kenapa Gen Z banyak yang merasa sulit dapet kerja. Nah, biar kamu bisa nyiapin diri, ngambil peluang, dan nggak kejebak di posisi yang stuck terus. Simak artikelnya sampai habis ya genks!
Persaingannya Terlalu Ketat. Gak Punya Strategi = “Bunuh Diri”
Coba kita pikir sebentar ya. Ada berapa kampus dan perguruan tinggi di Indonesia. Katakanlah setiap tahun di 1 kampus / universitas, ada 100 orang yang lulus, wisuda dan jadi sarjana. Sekarang tinggal kita kali aja. Rumusnya : jumlah lulusan atau sarjana X jumlah PTN atau PTS X jumlah daerah di seluruh wilayah Indoenesia.

Hasilnya dibagi dengan ketersediaan lowongan kerja. Jika lokernya lebih lebih banyak dari para pencari kerjanya, itu artinya ketersediaan lapangan kerjanya ada, tinggal menyesuaikan saja dengan kriteria yang dibutuhkan setiap perusahaan. Jika lokernya lebih sedikit dari para pencari kerjanya, itu artinya info lokernya sedikit dan kita harus saling bersaing dan berkompetisi.
BACA JUGA : 7 ALASAN KENAPA DUNIA KERJA PERHOTELAN BANYAK DIMINATI
Celakanya kalau udah lokernya sedikit, kriteria yang dibutuhkan juga banyak yang belum sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Belum lagi ada ditambah dengan realita kalau kita tidak hanya bersaing dengan yang sesama fresh graduate, tapi juga dengan pekerja berpengalaman yang ingin pindah kerja atau sedang mencari peluang baru.

Akibatnya, dari sisi perusahaan sebagai pemberi kerja akan menjadi jauh lebih selektif dan hanya menerima kandidat yang benar-benar siap masuk ke dunia kerja profesional. Sementara dari sisi kita sebagai para pencari kerja tentu akan merasa lebih sulit lagi untuk bersaing.
Kemampuan Yang Belum Sesuai Dengan Kebutuhan Perusahaan
Diatas udah kita singgung soal kebutuhan perusahaan. Sebenarnya, banyak Gen Z yang punya skill, hasil dari apa yang mereka ketahui, pelajari, dan di dapat dari berbagai sumber, termasuk dari sekolah. Tapi sayangnya, tidak semuanya match atau sesuai dengan kebutuhan industri atau perusahaan.

Contoh yang paling relate adalah soal bahasa. Di jaman digitalisasi, dimana AI (Artificial Intelligence) sudah banyak digunakan dalam industri, banyak perusahaan yang membutuhkan para pekerja yang bisa berbahasa asing, minimal bahasa inggris sebagai bahasa internasional. Faktanya, kita sudah belajar bahasa inggris sejak SMP selama 3 tahun, SMA/SMK selama 3 tahun. Tapi realitanya, kalau pakai istilah perbadingan, mungkin hanya 1 dari 10 orang yang bisa berbahasa inggris.
BACA JUGA : PENTINGNYA SKILL BAHASA INGGRIS UNTUK KARIR DI ERA GLOBAL
Itu baru dari sisi bahasa, belum dari sisi yang lain seperti kemampuan untuk bisa berkomunikasi secara efektif, kemampuan menghadapi tamu/klien, problem solving, attitude, kemampuan bekerja dalam kelompok, pengalaman nyata (magang/pelatihan), kemampuan marketing, public speaking, management skill, personality branding dan muaaaasssiiiihhhh banyak lagi. Sampai sini masih paham kan? oke lanjut!
Kurang Memiliki Mentor Sebagai Career Path Guidelines
Apa itu mentor? Dan apa itu Career Path Guidelines? Oke, kita bahas satu per satu ya. Mentor adalah orang yang membimbing kamu supaya bisa berkembang lebih cepat dan sukses lebih cepat.

Kebanyakan dari kita selalu mencari cara untuk bisa sukses, tapi lupa dengan pertanyaan “siapa yang bisa bantu kita sukses?”, karena memiliki seorang mentor sebagai guru, pelatih, pembimbing dan pengarah itu jauh lebih penting!

Sedangkan Career Path Guidelines dalam arti yang sederahan dan mudah dipahami adalah panduan langkah-langkah mencapai tangga karier yang membantu seseorang memahami beberapa hal seperti harus mulai dari mana dulu, skill apa saja yang harus dipelajari, level-level apa yang akan dilewati, jenjang karier apa yang paling cocok dengan minat, bakat dan potensi diri dan bagaimana cara naik ke tahap berikutnya melalui pengelolaan atau manajemen waktu yang terarah dan terukur.

Kesimpulanya. Hari ini kita masih banyak melihat Gen Z cenderung punya “dunianya sendiri”. Kurang berkolaborasi, kurang berkoordinasi dan kurang bisa melihat koneksi sebagai aset penting sebagai sumber informasi. Jadi memiliki mentor dan arah karir, adalah suatu hal wajib dan mutlak, yang tidak bisa diabaikan begitu saja.
BACA JUGA : PRESIDEN PRABOWO SUBIANTO DUKUNG GEN Z KERJA HOTEL LUAR NEGERI
Sulit Menata Skala Prioritas
Generasi sekarang alias Gen Z hidup di lingkungan yang penuh distraksi. Media sosial, game, nongkrong, komunitas, hingga FOMO (Fear of Missing Out). Masalahnya, banyak yang belum terbiasa menyeimbangkan antara kapan waktunya belajar, kapan luangkan waktu buat mengembangkan skill, kapan kita bisa membiasakan diri untuk bisa punya tanggung jawab pribadi, kapan waktunya kita beristirahat dan kapan waktunya kita untuk bermain.

Akibatnya, persiapan menghadapi dunia kerja jadi kurang optimal. Pengaruhnya dimana? WAKTU. W-A-K-T-U. Kita mungkin baru menyadari waktu berlalu begitu cepat saat kita sadar ternyata di usia kita yang sekarang ternyata kita belum bisa apa-apa dan belum mencapai apa-apa. Sementara mereka yang bisa memanfaatkan waktunya, bisa berproses ke arah yang sedang fokus mereka tuju. Make Sense?

Terlalu Idealis dan Kurang Fleksibel
Gen Z sering punya ekspektasi tinggi, sebagian besarnya malah terlalu tinggi! Ingin gaji besar, kerjaan yang nyaman, tempat yang estetik dan posisi yang langsung bagus. Padahal, realita dalam dunia kerja itu menuntut fleksibilitas dan kesiapan untuk memulai dari bawah. Sikap yang terlalu idealis kadang membuat peluang bagus terlewat hanya karena tidak kelihatan sempurna di awal.

Padahal bisa jadi peluang tersebut justru menjadi jalur cepat menuju karier yang potensinya lebih besar. Apalagi kalau udah kena mindset “lebih baik nganggur daripada kerja tapi gak nyaman, self love itu lebih penting!” ini bahaya! B-A-H-A-Y-A! Alih-alih merasa begitu lebih baik mengubah pola pikirnya menjadi “OK. Saat ini aku sedang berjuang, supaya perjuangan ini terasa menyenangkan dan memorable, gmana ya?” Bener gak sih?
BACA JUGA : TAHAPAN PROSES BEKERJA DI KAPAL PESIAR YANG JARANG ORANG TAU!!
Kurang Memiliki Atau Belum Terbiasa Berpikir Kritis
Yang menjadi salah satu dari sekian banyak tantangan terbesar yang dihadapi oleh para Gen Z adalah, kita belum terbiasa membaca peluang jangka panjang. Padahal dunia kerja membutuhkan kemampuan untuk menganalisis tren sekarang dan akan bertumbuh seperti apa di masa yang akan datang, bisa memprediksi arah industri dengan melihat potensi gaya hidup manusia, bisa memahami kebutuhan pasar membuat keputusan yang tepat dan realistis.
![]()
Untuk semua hal tersebut, tentu akan terasa sulit dan sangat membingungkan jika kita tidak terbiasa berpikir kritsi atau yang sering disebut dengan istilah “Critical Thinking”. Lemahnya sisi ini juga bisa bikin kita jadi makin gampang terpengaruh sama sesuatu yang belum tentu sesuai dengan faktanya. Lebih dari itu, kurangnya kemampuan “critical thinking” ini bisa bikin kita jadi kehilangan karakter dan tidak memiliki personality branding. Ngeri Euyyy!!
RANDOMISASI KONTEN MEDIA SOSIAL
Banyaknya ketersediaan informasi lewat berbagai paltform media sosial, memunculkan banyak sekali hal random yang muncul dalam beranda kita. Sebagian berguna, sebagian lagi sebaiknya di-SKIP aja! Algoritma beberapa media sosial dan akun layanan internet kita seakan-akan mempelajari kita tanpa kita sadari.

Tontonan apa yang kita sukai, jam berapa kita aktif ber-medsos, seberapa aktif kita berinteraksi di medsos, dan sebarek-abrek data lain yang bekerja di belakang layar, bahka ketika kita sedang tidur! Hari ini kita ingin jadi afiliator, besok kita pengen trading, besoknya kita pengen buka toko online, eh besoknya kita malah jualan aset crypto. Jenuh sedikit kita buka medsos lain pengen jadi desainer, tapi 4 jam kemudian pengen jadi konten kreator.

Saat istirahat tiba-tiba muncul inspirasi buat jadi penulis, tapi lewat 1 hari udah ganti lagi jadi pengen kerjadiluar negeri. Dengan segala hal random itu, kalau boleh bertanya, “sebenarnya apa sih yang kita mau?”
KESIMPULAN
Gen Z bukan tidak mampu. Mereka hanya butuh arah yang jelas, pembimbing yang tepat, dan lingkungan yang mendukung perkembangan diri. Dengan memilih jalur dan mentor yang tepat. Gen Z punya kesempatan besar untuk bisa lebih cepat sukses dengan mekanisme agtau sistem dan program yang terukur dan terarah.

SOLUSI
Solusi termudah dan paling realistis untuk bisa menghadapi itu semua adalah MEMILIKI SEORANG MENTOR. Namun bukan sembarang mentor. Karena semua orang bisa jadi pimpinan, tapi tidak semua bisa memimpin. Sama halnya dengan mentor, semua orang bisa menjadi guru, tapi tidak semua layak disebut guru. Tulis komentar kamu jika kamu merasa ini adalah artikel yang relate dan bermanfaat, atau berikan saran agar ke depan kita bisa bahas hal-hal yang lebih menarik dan fundamental.



No responses yet